Search something?

Tampilkan postingan dengan label The Spice Journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Spice Journey. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Februari 2015

Kilas Balik Yang Terlalu Panjang

Selamat hari Sabtu, tukang pos yang manis.

Aku senang sekali selama tiga puluh hari bisa berkenalan dengan sesama perempuan yang belum ber-tuan ini, eh :)

Jika diteliti, suratku berjumlah dua puluh delapan saja. Ada dua hari di mana aku tidak sempat menulis karena harus pergi kesana kemari. Pada surat yang terakhir kali ini, ijinkan aku untuk menggali kembali kenangan yang muncul dari dua puluh delapan surat. Semoga tak terlalu banyak kata tertuang, sehingga membuat semangatmu hilang.

Aku selalu mengirim surat untuk pribadi-pribadi yang berbeda. Kebanyakan untuk seseorang atau dua-tiga-empat orang yang pasti. Sebagian kecil untuk semua orang. Suratku hampir tak pernah tertuju untuk sesosok pria yang sedang aku cintai. Memang, aku belum menemukannya.

Ah kangpos, engkau tahu itu :)


Senin, 23 Februari 2015

Aku dan Buku Untuk Papua

Selamat pagi, rekan-rekan Buku Untuk Papua!

Masihkah ada yang mengingatku? :)

Sudah dua belas bulan berlalu dan kenangan itu terekam selalu. Kesempatan mengenal gerakan merupakan hal mengesankan. Dan, yang lebih istimewa adalah menjadi relawan dan mengajar anak-anak di Biak. Aku sudah menjanjikan untuk menulis kisah, menampilkan foto-foto, dan menayangkan video tentang kegiatanku selama di sana, tapi hingga saat ini aku belum menunaikannya.



Kamis, 12 Februari 2015

Mr. Spice Journey

Hey, Mr. Endro Catur Nugroho! :)

How's life? It must be good and smooth, isn't it?
Or, is it spicy and tasty?

Well, as time goes by, it's been a year since thirteen of February two thousand and four. Today last year, I completed nine-days voluntourism in Biak, Papua. Voluntourism in the name of The Spice Journey in which you incarnated your vision. I think that it's sort of accountable corporate social responsibility on your side, and of pleasant present on mine :)

Selasa, 10 Februari 2015

Voluntourism di Biak, Papua

Hari ini, sepuluh Februari dua ribu empat belas, satu tahun silam, aku sedang bertandang di sebuah ruang yang dindingnya terang benderang. Warna-warni kuning, biru merah khas klub sepakbola Barcelona, terpampang indah mempesona. Di sanalah anak-anak berhimpun dalam dua rumpun kecil. Tak ada yang melamun, semua tekun menyusun balok-balok. Mereka berkompetisi merangkai balok-balok makin tinggi dan serasi agar sesuai ilustrasi.

Rumpun pertama selesai, berteriak ramai merayakan keunggulan. Rumpun kedua belum usai, tapi tak peduli, mereka tetap bergerak. Anak-anak bersorak suka hati, memberi motivasi. Tersisa beberapa balok lagi. Prak! Balok terbanting. Sedetik mereka bergeming. Sedetik kemudian, senyum sudah tersungging. Walau kecewa karena tak bisa menuntaskan tugas, anak-anak itu tetap antusias. Mereka bergegas mengemasi balok-balok itu.