Search something?

Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Desember 2017

Jadi, Apakah Aku Bisa?

Saya suka Eropa timur, Mbak. Orang-orangnya lebih terbuka, lingkungannya cantik dan bersih…

Demikian ucap seorang kawan seperjalanan saat kami naik kereta menuju Yogyakarta, tepat di hari terakhir bulan November lalu. Saat mendengar kata Eropa timur, sesungguhnya aku ingin segera menimpali, jalanan dan kota-kota di Kroasia pasti keren kan? Pertanyaan itu tak jadi ku ungkap. Pikiranku mengembara.

Merasakan lezatnya steak dan wine di restoran Boban dipeluk sejuknya Zagreb. Atau, duduk di pinggir danau biru di Imotski sembari membayangkan seorang anak kecil, bernama Zvonimir, sedang bermain sepakbola saat danau itu mengering dan berubah menjadi lapangan. Itulah imajinasi yang mungkin paling cemerlang jika suatu ketika aku bisa mengunjungi Kroasia.

Lamunanku terhenti.

Kawan seperjalanan itu melanjutkan kisahnya berkeliling dunia. Turki, Kashmir, India, Myanmar, Vietnam, Thailand. Daftar ini terus berlipat ganda. Beberapa minggu lagi ia akan berwisata ke Nepal. Ia tunjukkan foto-foto nan cantik memesona yang merupakan hasil kerjasama ciamik antara tangan, mata, dan semangat. Serta kamera canggihnya. Sebagian besar foto itu bertema human interest. Memang itulah pekerjaannya.

Ternyata ia seorang wartawan di sebuah media internasional yang berkantor di Jakarta. Aku berkarya sebagai guru di sebuah SMA swasta di Kabupaten Blitar. Kami berbagi pengalaman hidup. Aku tidak sedang mengajarkan materi untuk persiapan ujian. Ia juga tak mewawancarai atau mendokumentasikan perjumpaan kami untuk sebuah berita hangat di surat kabar. Cukup percakapan-percakapan ringan yang menambah wawasan.

Kereta sedang melintas di wilayah Caruban.

Tak sengaja kami bertemu di gerbong kereta makan di kala titik-titik air hujan membasahi kaca jendela kereta. Aku hampir menghabiskan nasi goreng saat ia datang dan memesan nasi goreng pula. Ku berikan senyum termanis agar ia bisa duduk santai di bangku kosong yang ada di hadapanku.

Wah dari mana, Mas?

Surabaya, Mbak. Tadi saya naik bus ke Kertosono, lalu nyambung naik kereta ini, mau ke Yogya. Mbak mau ke mana?

Saya juga ke Yogya. Besok pagi ada teman menikah. Sekalian jalan-jalan juga sih, pengen kuliner ke beberapa kafe milik teman-teman.

Asyik ya, Mbak?

Aku mengangguk. Tersenyum seraya menerawang suasana yang nanti akan ku nikmati.

Pesawat sudah habis, Mbak. Sopir bus yang tadi saya tanya enggak bisa menjanjikan bisa sampai di Yogya jam berapa. Katanya sih perjalanan bis sekitar dua belas jam karena kan sekarang lagi libur panjang tiga hari. Ini saya baru aja tadi pagi pesan tiket kereta. Cek di Traveloka, kok masih ada tempat duduk, ya sudah, langsung saja.

Dia berbicara sembari memperlihatkan rincian pembelian tiket kereta di Traveloka. Di situ tertera nama kereta Kahuripan dari stasiun Kertosono menuju stasiun Lempuyangan.

Iya, Mas. Memang kok kita bisa pesan tiket kereta di Traveloka sampai tiga jam sebelum berangkat.

Hah, apa? Memang gitu ya? Raut mukanya tampak terkejut.

Belum tahu ya, Mas?

Ia menggeleng.

Ini istilahnya last minute booking, Mas. Andai mendadak kita perlu beli tiket kereta dan segera berangkat, bisa pakai Traveloka. Batas waktunya tiga jam sebelum keberangkatan kereta.

Saat aku menjelaskan, ia mengutak-atik ponsel pintarnya.

Oh iya, ini Mbak. Coba lihat, tadi saya beli lima jam sebelumnya, ujarnya sambil menyodorkan layar ponsel supaya ku pandang.

Benar, Mas. Mungkin kan ada kepentingan tertentu yang harus dilakukan, sementara di waktu yang bersamaan kita harus sudah punya tiket kereta.

Bisa hemat waktu ya, Mbak? Memang saya selalu cek Traveloka sih untuk keperluan traveling saya.

Dan kita jadi bisa ketemu di sini. Saya senang lho, bisa dengar cerita-cerita tadi.

Kemudian kawan seperjalanan ini pamit untuk kembali ke gerbong penumpang.

Aku tertegun dan teringat sesuatu.

Fitur last minute booking ini pun baru ku ketahui beberapa minggu sebelum perjalananku ke Yogya. Jika saja aku sudah tahu sejak lama, tentu aku akan memanfaatkannya. Satu peristiwa yang ku kenang adalah ketika seorang rekan kerja meminta info di mana bisa beli tiket kereta untuk keberangkatan malam itu karena ia tak sempat ke stasiun. Waktu itu aku berada dalam masa hibernasi, sehingga aku tak menyadari betapa berharganya hal itu.

Tapi tak mengapa. Aku jadi bisa belajar sesuatu dari peristiwa-peristiwa ini.


Masih akan ada beragam peristiwa yang tiba-tiba terjadi. Masih akan ada banyak kebutuhan hidup yang harus dipenuhi dengan segera. Masih akan ada jutaan hari untuk ku habiskan di dalam kereta. Suatu saat aku pasti menggunakan fitur last minute booking, sebab aku tak tahu kejutan-kejutan yang akan ku terima di masa mendatang…


Dan salah satu kejutan yang ku dapatkan dari perjalananku di Yogya kali ini adalah...


Sebuket bunga!

Jadi, apakah aku bisa jadi sang pelempar bunga dalam sebuah pesta pernikahan tahun(-tahun ke) depan?

Rabu, 11 Maret 2015

Tak Terbendung di Bandung

Bandung, kota yang suasananya amat mendukung untuk jatuh cinta. Pertama kali aku terpikir tentang Bandung adalah bulan Juni 2010, waktu aku berhasil mengukir nama di selembar ijazah. Dengan begitu saja aku punya rencana berkunjung ke Bandung. Bersama seorang kawan, aku menikmati satu hari perjalanan nan menawan di Bandung. Aku, gadis muda yang terbiasa dengan keadaan desa, menjadi terpana karena pesona Bandung.



Rabu, 25 Februari 2015

Hong Kong Ramai Sekali!

Halo Ibuk, Halo Bapak!

Apa kabar Blitar? Hujan deras-deras, dan panas sebentar-sebentar, ya? Apa kabar si kucing kuning? Masih bugar dan gak bertengkar lagi, kan?

Siang tadi aku sudah kembali ke Taiwan. Sebelas hari aku menghabiskan seluruh jatah libur tahun baru di Hong Kong. Hong Kong, negara dengan harga properti paling mahal sedunia. Sebelas hari di sana. Sepertinya sombong, ya? Hohoho.


Senin, 23 Februari 2015

Aku dan Buku Untuk Papua

Selamat pagi, rekan-rekan Buku Untuk Papua!

Masihkah ada yang mengingatku? :)

Sudah dua belas bulan berlalu dan kenangan itu terekam selalu. Kesempatan mengenal gerakan merupakan hal mengesankan. Dan, yang lebih istimewa adalah menjadi relawan dan mengajar anak-anak di Biak. Aku sudah menjanjikan untuk menulis kisah, menampilkan foto-foto, dan menayangkan video tentang kegiatanku selama di sana, tapi hingga saat ini aku belum menunaikannya.



Jumat, 20 Februari 2015

Graduation Is Just Around Corner

Dear empat sekawan :)

How's life? Today is a day after Chinese New Year. We are now in the different place for spending winter vacation. Anthony and Lusi are in Taiwan. Mindia is in Indonesia. I'm in Hong Kong.

Well, this is our second year in National Taiwan Ocean University. University that makes us meet, together, and proud. We enjoy dozen Chinese characters. We have hundred days of studying and traveling. We celebrate thousand dollars of scholarship.

Here in Taiwan, we make wonderful memory. We struggle as joyful Indonesians. We relish difficulties of Chinese language and easiness of Bahasa Indonesia. We share food and stories every Friday night.


Selasa, 17 Februari 2015

Dear Traveling Soul

Dear traveling soul,

I know you want to go around the world. I know you like hunting affordable transportation. I know you are diligent to explore comfortable accomodation. I know you are good at planning journey.

I see you are growing up. From time to time you become more mature and secure. You are not copy-paste-ing others' expedition anymore, but you create your own road trip. You are no longer falling in love of what others' feeling, but of what you are looking at, listening to, talking about, smelling out, and touching down. Until at the end you love your self more than any other.



Kamis, 12 Februari 2015

Mr. Spice Journey

Hey, Mr. Endro Catur Nugroho! :)

How's life? It must be good and smooth, isn't it?
Or, is it spicy and tasty?

Well, as time goes by, it's been a year since thirteen of February two thousand and four. Today last year, I completed nine-days voluntourism in Biak, Papua. Voluntourism in the name of The Spice Journey in which you incarnated your vision. I think that it's sort of accountable corporate social responsibility on your side, and of pleasant present on mine :)

Selasa, 10 Februari 2015

Voluntourism di Biak, Papua

Hari ini, sepuluh Februari dua ribu empat belas, satu tahun silam, aku sedang bertandang di sebuah ruang yang dindingnya terang benderang. Warna-warni kuning, biru merah khas klub sepakbola Barcelona, terpampang indah mempesona. Di sanalah anak-anak berhimpun dalam dua rumpun kecil. Tak ada yang melamun, semua tekun menyusun balok-balok. Mereka berkompetisi merangkai balok-balok makin tinggi dan serasi agar sesuai ilustrasi.

Rumpun pertama selesai, berteriak ramai merayakan keunggulan. Rumpun kedua belum usai, tapi tak peduli, mereka tetap bergerak. Anak-anak bersorak suka hati, memberi motivasi. Tersisa beberapa balok lagi. Prak! Balok terbanting. Sedetik mereka bergeming. Sedetik kemudian, senyum sudah tersungging. Walau kecewa karena tak bisa menuntaskan tugas, anak-anak itu tetap antusias. Mereka bergegas mengemasi balok-balok itu.


Senin, 09 Februari 2015

Gemini Mei, Gemini Juni

Wahai engkau sang Gemini dua puluh empat Mei :)

Kau pernah berucap bahwa kau mau surat. Surat dariku untukmu. Seperti waktu itu kau mendambakan kartupos paling rupawan dari Taiwan. Telah ku kabulkan, bukan? Betapa gagah pintamu, sebanding dengan betapa gigih upayaku. Begitulah Gemini. Sekali mengingini, sulit berhenti.

Kini, aku hendak mengikuti informasi termutakhir apa yang ingin kau bagi. Adakah kau sedang melayani tamu-tamu yang katamu datang tanpa henti? Ataukah sekarang kau tengah mendapat rehat? Aku mahfum, memang pekerjaanmu mensyaratkan limpahan aksi maklum. Agar kau tak merasa terhukum.

Ayo, sejenak kita mengaso. Gemini suka sekali bersantai, tho?



Minggu, 01 Februari 2015

The God of Matchmaker

Dear god of matchmaker,

Last week, on Tuesday twenty seventh of January, for the first time I visited the Taiwanese Buddhist temple of yours. It is not too big enough, but the character of Forever Love is clearly written in the wall behind you. You know, I smiled and whispered to my heart, 'I finally found you. Here in Tainan, not in Hscinchu as I planned before.'

I remember your long beard with a long-term smile. I saw young people came and prayed to you. I believe that they asked your blessing in finding their loved one. They must be single souls who long for being united with their lover soul. Maybe they have been waiting since a long long time, ago.

Sabtu, 31 Mei 2014

Hati yang Jatuh di Yangmingshan Tak Pernah Menyesal

Dulu aku kira Hatori adalah sejenis ninja yang jadi juru kunci gunung Fuji seperti sosok Mbah Maridjan sebagai juru kunci Gunung Merapi. Dulu aku sangka para pendaki gunung itu hanyalah orang-orang berotot kuat bertulang besi layaknya Gatot Kaca, sang wayang jagoan. Ternyata tidak! Aku yang berbadan kurus dan seksi pun bisa naik gunung! Kali ini aku berkisah tentang pengalamanku merantau di gunung yang terletak di negeri seberang, Taiwan.



Minggu, 25 Mei 2014

Postcard from Formosa: Weed & Win

While my Formosa postcard had been received by the beloved pastor: Kusdiyanto Tana, then two friends of mine asked Formosa postcard as well. For sure, I voluntarily sent it. I couldn't write too much about these two friends. What you should know is that they have the same initial: W. I will call them Weed and Win. Yes, you see they love to weed and always win! Oh, they are men, and really gentle!



Kamis, 22 Mei 2014

Travel Gear Yang Serenyah Rempah-Rempah

Pasti seluruh dunia berprasangka kalau aku penggemar fanatik produk Indonesia. Pasti banyak orang mengira aku demen banget sama produk dalam negeri. Dan, pastilah mereka itu benar!

Ya, aku memang bangga dengan produk kreatif Indonesia. Bukan sekadar bangga, orang-orang di sekitar pastilah paham juga kalau aku suka pamer sekaligus jadi bintang iklan produk-produk buatan tangan-tangan lembut dari manusia yang lahir, tumbuh dan akhirnya berkembang biak di ibu pertiwi ini. Juga, aku selalu menyempatkan diri mampir dan nongkrong jika di sekitar tempat tinggalku ada pameran produksi Indonesia.

Sabtu, 17 Mei 2014

Three Visible Signs

All I knew was that I would take a short trip to Kampung Anyar. It is a remote area belong to one of the small city in Indonesia. Literally, kampung means village; meanwhile anyar stands for new. Yes, it’s a new village of its time. Now, it’s not truly new. But, every time I visit Kampung Anyar, I always see at least a new spot.






Rabu, 30 April 2014

Ini Dufan Kami: Petualangan Yang Belum Tamat

Suatu siang pada saat jam istirahat, dua puluh tahun yang lalu, aku dan teman-teman sekelas mengobrol tentang rencana liburan. Sebuah obrolan yang dari meluncur dari mulut anak-anak kelas 2 di sekolah dasar. Yosep, seorang temanku yang berasal dari Jakarta, bercerita tentang pengalamannya di Dufan. Waktu itu, sebagai anak yang sejak dalam kandungan tinggal di kota Blitar, aku tak pernah dengar apa itu Dufan. Dengan keyakinan bulat dan tulus, Yosep berucap bahwa liburan di Dufan itu sangat menyenangkan. It is so much fun, a never ending fun. Yes, that was what he said to me and my classmates.

Sampai di rumah, buru-buru aku bertanya kepada ibuku.

Aku: 'Buk, pernah ke Jakarta? Pernah ke Dufan?'
Ibu: 'Ooo Dufan itu Dunia Fantasi. Di sana ada banyak permainan. Bisa naik-naik, gitu. Trus ada Istana Boneka. Banyak boneka, bisa gerak-gerak.'
Aku: 'Wah, bagus yaa? Kapan aku bisa ke sana? Temanku sudah ke sana...'



Istana Boneka Dufan
(Boneka bisa bergerak, begitu kata ibuku.)


Sabtu, 26 April 2014

#ExploreIndonesia: (Rencana) Piknik Keluarga

Piknik keluarga, terakhir kali kapan yaa? Piknik yang benar-benar piknik. Piknik yang lengkap ada ibu, bapak, anak. Piknik yang asyik. Hmm...kapan?

Jika pergi bersama keluarga, kenangan paling baru tentu saja saat mereka mengantarkanku ke Bandara Juanda para 1 September 2013. Yaa, saat itu aku akan melancong ke sebuah negeri bernama Formosa. Tidak banyak kata terucap. Tidak banyak waktu yang dihabiskan. Tidak banyak air mata mengalir. Hanya beberapa salam, senyum, dan rasa haru yang mengiringi langkahku pergi keluar negeri untuk pertama kalinya. Aahh, dadaku bergetar mengingatnya!


Sebelumnya, pertengahan tahun 2012 aku dan keluarga sempat ke Jember. Bukan hanya keluarga inti, tapi juga termasuk kakek, bibi, paman, sepupu, keponakan, dan nenek! Keluarga besar, atau keluarga lebar? Kami punya 1 tujuan: ikut mejeng bersama di pernikahan Selly & Adi. Kami tidak sempat menginap di Jember. Tidak pula berkesempatan menyaksikan Jember Fashion Carnival yg saat itu digelar tepat dengan tanggal pernikahan Selly & Adi. Sedih sekali! Tak mengapa, yang penting saat itu kami bisa berkumpul.



Jumat, 14 Maret 2014

Fabric Flat Pouch - Rote Ndao (The Spice Journey)

Product link can be found here :)

Rote-Ndao pouch is an exquisite mix of hand-made and factory-built fabrics. The white leaves pattern beautify the red layer. It is matched perfectly with dark brown coloring which makes this pouch looks so swanky. Since the first time I have been just fascinated with how the hand-tailoring was performed. That sewing is such a groovy groove, the original one. The more I should say, this pouch is exceptionally humane. This flies my mind away to the story behind the creation.




Sabtu, 01 Maret 2014

Nubie Traveller: Pulang

Kali ini saya sedang ikut kompetisi blog dari #Nubie Traveller Monthly Blog Competition. Kisah saya tentang pulang bisa dicek di sini atau di bawah ini ヽ(^o^)ノ


Ibuku mengerti bahwa aku mudah saja merasa betah di suatu tempat. Entah tempat baru, entah tempat lama. Jarang aku terburu-buru ingin beranjak. Tinggallah dulu sejenak, begitu kata hatiku. Seringkali perjalanan pulang ku lalui seorang diri. Tidak mengapa bagiku, karena aku menikmatinya.





Sabtu, 11 Januari 2014

JELAJAH REMPAH - VOLUNTOURISM DI BIAK: DUKUNG AKU!

Kali ini aku sedang gembira, kawaaannn...!
Aku terpilih sebagai salah satu dari 8 finalis Jelajah Rempah.

FINALIS JELAJAH REMPAH
Apa kerjaan finalis Jelajah Rempah?
Memilih 1 dari 3 tujuan penjelajahan: ANAMBAS, BANDA NEIRA, atau BIAK
Lalu menyusun rencana perjalanan ke tempat yang dipilih dengan aturan (ciiee aturan):
lama jelajah 7-14 hari dengan anggaran maksimal 10 juta rupiah.
Nah, gak hanya traveling, tapi juga voluntourism.
Seperti apa jadinya? Ini dia:



Dan setelah itu...mengundang keluarga, saudara, kawan, penggemar (serasa artis), juga para follower dan stalker (eehh!) untuk memberi dukungan.
Caranya? Cukup beri LIKE dan COMMENT pada Facebook di link sini :)
Selain itu, kalian juga bisa dukung di Twitter lho! Buka akun @JelajahRempah lalu tuliskan pesan untuk itineraryku, mention @JelajahRempah dan @uopoiki plus hashtag #JelajahRempah :))

Hmm...berikut ini ku sampaikan beberapa catatan menarik tentang itu, iyaa tentang itu, yang itu tuh, siapa hayooo ^___^


Sejak 2009, traveling ke mana saja?

Sekedar pengingat, tempat mana saja sih yang sudah aku kunjungi sejak 2009?

BLITAR: 
Pesanggrahan Djojodigdan, Makam Aryo blitar, Makam Bung Karno, Gua Maria Ngadirejo, Pantai Jolosutro, Pantai Serang, Pantai Pasur, Pantai Jebring, Pantai Tambak, Pantai Gondho Mayit, Kampung, Anyar, Gunung Kelud, Candi Penataran, Petilasan Rambut Monte, Bendungan Serut, Sumber Udel