Saat Christian bercakap dengan bantal, duduklah Vabyo di kedai dan menyibak mimpi.
Kala Windy tenggelam dalam jurnal, berdirilah aku di London Eye menampar pipi.
Aku yang tak cerdik merangkai kata-kata beruntun, kini menculik tiga nama untuk mencipta bait pantun. Aku yang mendambakan suatu jiwa lemah lembut, sekarang meminta tamparan sambil bertekuk lutut.
Tamparan yang aku harapkan terjadi di London Eye. Ketika mataku tak berkedip. Di waktu tubuhku mematung. Pada saat itulah ada telapak tangan yang menampar pipiku. Tamparan yang menyadarkan bahwa aku tidak sedang tidur di atas bantal. Tamparan yang meningatkan bahwa mimpiku telah teraih. Tamparan yang mendorongku habis-habisan untuk mengabadikannya lewat tulisan.
Tamparan yang aku harapkan terjadi di London Eye. Ketika mataku tak berkedip. Di waktu tubuhku mematung. Pada saat itulah ada telapak tangan yang menampar pipiku. Tamparan yang menyadarkan bahwa aku tidak sedang tidur di atas bantal. Tamparan yang meningatkan bahwa mimpiku telah teraih. Tamparan yang mendorongku habis-habisan untuk mengabadikannya lewat tulisan.
