Selamat sore, ibu guru Rizki Nawang :)
Saya membaca surat ibu guru untuk sang murid, James Krisnanda. Surat dari nusantara untuk yang di luar nusantara. Saya tertawa saja. Bahagia, karena saya juga pernah ditelepon pria sederhana yang sedang jauh di sana. Bukan di negeri Tirai Bambu, tapi dia ada di negeri Paman Sam. Saya sendiri sekarang di negeri Formosa.
Memang senang ya, jika seseorang yang bukan siapa-siapa menyapa kita, tanpa disangka-sangka. Seseorang yang ternyata memandang kita dari jauh. Memandang dengan hatinya.
Search something?
Kamis, 26 Februari 2015
Rabu, 25 Februari 2015
Hong Kong Ramai Sekali!
Halo Ibuk, Halo Bapak!
Apa kabar Blitar? Hujan deras-deras, dan panas sebentar-sebentar, ya? Apa kabar si kucing kuning? Masih bugar dan gak bertengkar lagi, kan?
Siang tadi aku sudah kembali ke Taiwan. Sebelas hari aku menghabiskan seluruh jatah libur tahun baru di Hong Kong. Hong Kong, negara dengan harga properti paling mahal sedunia. Sebelas hari di sana. Sepertinya sombong, ya? Hohoho.
Apa kabar Blitar? Hujan deras-deras, dan panas sebentar-sebentar, ya? Apa kabar si kucing kuning? Masih bugar dan gak bertengkar lagi, kan?
Siang tadi aku sudah kembali ke Taiwan. Sebelas hari aku menghabiskan seluruh jatah libur tahun baru di Hong Kong. Hong Kong, negara dengan harga properti paling mahal sedunia. Sebelas hari di sana. Sepertinya sombong, ya? Hohoho.
Label:
#30HariMenulisSuratCinta,
Traveling
Senin, 23 Februari 2015
Aku dan Buku Untuk Papua
Selamat pagi, rekan-rekan Buku Untuk Papua!
Masihkah ada yang mengingatku? :)
Sudah dua belas bulan berlalu dan kenangan itu terekam selalu. Kesempatan mengenal gerakan merupakan hal mengesankan. Dan, yang lebih istimewa adalah menjadi relawan dan mengajar anak-anak di Biak. Aku sudah menjanjikan untuk menulis kisah, menampilkan foto-foto, dan menayangkan video tentang kegiatanku selama di sana, tapi hingga saat ini aku belum menunaikannya.
Masihkah ada yang mengingatku? :)
Sudah dua belas bulan berlalu dan kenangan itu terekam selalu. Kesempatan mengenal gerakan merupakan hal mengesankan. Dan, yang lebih istimewa adalah menjadi relawan dan mengajar anak-anak di Biak. Aku sudah menjanjikan untuk menulis kisah, menampilkan foto-foto, dan menayangkan video tentang kegiatanku selama di sana, tapi hingga saat ini aku belum menunaikannya.
Minggu, 22 Februari 2015
Gita Jumpa di Rantau
Halo, Brigita.
Aku gembira kau baik-baik saja.
Ah, engkau kawanku sejak dulu, walau tak banyak waktu kita bertemu. Bahkan, aku tak tahu engkau sedang di rantau. Pun tak hafal engkau berasal dari sebuah desa, Kalidahu. Tapi, aku ingat kita pernah bersama beberapa tahun lampau.
Sekarang, ternyata, kita berada di bangsa yang masih serupa. Ah, tiada pernah ku sangka. Dan baru saja kita bertatap muka, meski tak lama. Engkau selalu manis seperti sedia kala :)
Aku gembira kau baik-baik saja.
Ah, engkau kawanku sejak dulu, walau tak banyak waktu kita bertemu. Bahkan, aku tak tahu engkau sedang di rantau. Pun tak hafal engkau berasal dari sebuah desa, Kalidahu. Tapi, aku ingat kita pernah bersama beberapa tahun lampau.
Sekarang, ternyata, kita berada di bangsa yang masih serupa. Ah, tiada pernah ku sangka. Dan baru saja kita bertatap muka, meski tak lama. Engkau selalu manis seperti sedia kala :)
Label:
#30HariMenulisSuratCinta,
Kenangan
Sabtu, 21 Februari 2015
Sentuhan Alex Komang
Kepada semua yang tersentuh oleh Alex Komang,
Di antara kalian, pastilah aku yang terkecil dalam mengagumi Alex. Aku hanya tahu satu film yang dibintangi Alex. Sebelum Pagi Terulang Kembali. Sebuah film yang membuatku benar-benar sadar betapa berharganya kehadiran Alex di dunia perfilman Indonesia.
Di antara kalian, pastilah aku yang terkecil dalam mengagumi Alex. Aku hanya tahu satu film yang dibintangi Alex. Sebelum Pagi Terulang Kembali. Sebuah film yang membuatku benar-benar sadar betapa berharganya kehadiran Alex di dunia perfilman Indonesia.
Label:
#30HariMenulisSuratCinta,
Kenangan,
Mengagumi
Jumat, 20 Februari 2015
Graduation Is Just Around Corner
Dear empat sekawan :)
How's life? Today is a day after Chinese New Year. We are now in the different place for spending winter vacation. Anthony and Lusi are in Taiwan. Mindia is in Indonesia. I'm in Hong Kong.
Well, this is our second year in National Taiwan Ocean University. University that makes us meet, together, and proud. We enjoy dozen Chinese characters. We have hundred days of studying and traveling. We celebrate thousand dollars of scholarship.
Here in Taiwan, we make wonderful memory. We struggle as joyful Indonesians. We relish difficulties of Chinese language and easiness of Bahasa Indonesia. We share food and stories every Friday night.
How's life? Today is a day after Chinese New Year. We are now in the different place for spending winter vacation. Anthony and Lusi are in Taiwan. Mindia is in Indonesia. I'm in Hong Kong.
Well, this is our second year in National Taiwan Ocean University. University that makes us meet, together, and proud. We enjoy dozen Chinese characters. We have hundred days of studying and traveling. We celebrate thousand dollars of scholarship.
Here in Taiwan, we make wonderful memory. We struggle as joyful Indonesians. We relish difficulties of Chinese language and easiness of Bahasa Indonesia. We share food and stories every Friday night.
Label:
#30HariMenulisSuratCinta,
Chinese,
Kenangan,
NTOU,
Scholarship,
Study,
Study abroad,
Taiwan,
Teman,
Traveling
Kamis, 19 Februari 2015
Sedikit Untuk Bosse
Selamat dini hari Bosse Pos Cinta beserta para kru tukang pos,
Semoga keberuntungan cinta mewarnai bosse dan kru sekalian, seiring dengan keberuntungan kambing pada tahun baru Cina. Demikian juga dengan keberuntungan cita-cita akan membuat alam semesta lebih tertata. Tak ada lagi perang atas nama tahta. Tak ada lagi kejahatan berdasar harta.
Yang ada hanyalah surat-surat cinta sebagai tanda mata. Seperti ribuan rasa dan kata yang dilayangkan selama dua puluh hari ke belakang. Ananda menikmati saat-saat ini. Berkomunikasi dengan diri sendiri, dengan tukang pos, dan juga dengan orang-orang yang dikenang.
Semoga keberuntungan cinta mewarnai bosse dan kru sekalian, seiring dengan keberuntungan kambing pada tahun baru Cina. Demikian juga dengan keberuntungan cita-cita akan membuat alam semesta lebih tertata. Tak ada lagi perang atas nama tahta. Tak ada lagi kejahatan berdasar harta.
Yang ada hanyalah surat-surat cinta sebagai tanda mata. Seperti ribuan rasa dan kata yang dilayangkan selama dua puluh hari ke belakang. Ananda menikmati saat-saat ini. Berkomunikasi dengan diri sendiri, dengan tukang pos, dan juga dengan orang-orang yang dikenang.
Langganan:
Postingan (Atom)