Search something?

Sabtu, 28 Februari 2015

Kilas Balik Yang Terlalu Panjang

Selamat hari Sabtu, tukang pos yang manis.

Aku senang sekali selama tiga puluh hari bisa berkenalan dengan sesama perempuan yang belum ber-tuan ini, eh :)

Jika diteliti, suratku berjumlah dua puluh delapan saja. Ada dua hari di mana aku tidak sempat menulis karena harus pergi kesana kemari. Pada surat yang terakhir kali ini, ijinkan aku untuk menggali kembali kenangan yang muncul dari dua puluh delapan surat. Semoga tak terlalu banyak kata tertuang, sehingga membuat semangatmu hilang.

Aku selalu mengirim surat untuk pribadi-pribadi yang berbeda. Kebanyakan untuk seseorang atau dua-tiga-empat orang yang pasti. Sebagian kecil untuk semua orang. Suratku hampir tak pernah tertuju untuk sesosok pria yang sedang aku cintai. Memang, aku belum menemukannya.

Ah kangpos, engkau tahu itu :)


Jumat, 27 Februari 2015

Hati

Uuiii, Mindi!

Apa kabar? Masih sibuk dengan persiapan pernikahan, ya? Tetap ingat istirahat dan makan secukupnya biar sehat :)

Kita ini disebut apa, sih? Teman, tapi sering ancam-ancaman. Sahabat, tapi suka tersenyum jahat. Musuh, tapi kangen pas jauh. Memang kalau sendiri seperti ini, rasanya bagai pecel tanpa sambel.

Kata Alda Risma, aku tak biasa bila tiada kau di sisiku, aku tak biasa bila ku tak mendengar suaramu. Tidak ada lagi sosok yang bisa mengiris bawang putih. Tidak ada lagi bau-bau semerbak dan bunyi-bunyi semarak. Bau dan bunyi kentut :)

Kata Rumor, aku tanpamu butiran debu. Jadi terharu dan tersedu-sedu. Huhuhu.


Kamis, 26 Februari 2015

Tentang Saling Memandang

Selamat sore, ibu guru Rizki Nawang :)

Saya membaca surat ibu guru untuk sang murid, James Krisnanda. Surat dari nusantara untuk yang di luar nusantara. Saya tertawa saja. Bahagia, karena saya juga pernah ditelepon pria sederhana yang sedang jauh di sana. Bukan di negeri Tirai Bambu, tapi dia ada di negeri Paman Sam. Saya sendiri sekarang di negeri Formosa.

Memang senang ya, jika seseorang yang bukan siapa-siapa menyapa kita, tanpa disangka-sangka. Seseorang yang ternyata memandang kita dari jauh. Memandang dengan hatinya.


Rabu, 25 Februari 2015

Hong Kong Ramai Sekali!

Halo Ibuk, Halo Bapak!

Apa kabar Blitar? Hujan deras-deras, dan panas sebentar-sebentar, ya? Apa kabar si kucing kuning? Masih bugar dan gak bertengkar lagi, kan?

Siang tadi aku sudah kembali ke Taiwan. Sebelas hari aku menghabiskan seluruh jatah libur tahun baru di Hong Kong. Hong Kong, negara dengan harga properti paling mahal sedunia. Sebelas hari di sana. Sepertinya sombong, ya? Hohoho.


Senin, 23 Februari 2015

Aku dan Buku Untuk Papua

Selamat pagi, rekan-rekan Buku Untuk Papua!

Masihkah ada yang mengingatku? :)

Sudah dua belas bulan berlalu dan kenangan itu terekam selalu. Kesempatan mengenal gerakan merupakan hal mengesankan. Dan, yang lebih istimewa adalah menjadi relawan dan mengajar anak-anak di Biak. Aku sudah menjanjikan untuk menulis kisah, menampilkan foto-foto, dan menayangkan video tentang kegiatanku selama di sana, tapi hingga saat ini aku belum menunaikannya.



Minggu, 22 Februari 2015

Gita Jumpa di Rantau

Halo, Brigita.

Aku gembira kau baik-baik saja.

Ah, engkau kawanku sejak dulu, walau tak banyak waktu kita bertemu. Bahkan, aku tak tahu engkau sedang di rantau. Pun tak hafal engkau berasal dari sebuah desa, Kalidahu. Tapi, aku ingat kita pernah bersama beberapa tahun lampau.

Sekarang, ternyata, kita berada di bangsa yang masih serupa. Ah, tiada pernah ku sangka. Dan baru saja kita bertatap muka, meski tak lama. Engkau selalu manis seperti sedia kala :)


Sabtu, 21 Februari 2015

Sentuhan Alex Komang

Kepada semua yang tersentuh oleh Alex Komang,

Di antara kalian, pastilah aku yang terkecil dalam mengagumi Alex. Aku hanya tahu satu film yang dibintangi Alex. Sebelum Pagi Terulang Kembali. Sebuah film yang membuatku benar-benar sadar betapa berharganya kehadiran Alex di dunia perfilman Indonesia.